The Bioinformatics materials and goodies
  Sopan santun...Masih perlukah?...Pertimbangkanlah Netiquette
 

Oleh Arli A P

  3Feb 2009

Seorang teman pernah bercerita, bahwa dia sangat berhati hati jika diundang makan oleh seorang nyonya berkebangsaan Inggris. Mengapa? Soalnya jika orang Inggris yang mengundang makan, terutama dari kalangan ningrat, mereka akan 'memaksa' kita untuk memperhatikan 'table manner'. Walau rasanya ini hanya kalangan tertentu, sebab saya pernah diundang makan sama orang Inggris juga, namun namanya terlalu fokus sama 'table manner' tidak ada. Karena teman saya ini bukan dari kalangan Elit. Adapun orang Amrik punya kebiasaan yang lain lagi. Sudah menjadi jamak, bahwa produk fast food mereka bisa dimakan langsung menggunakan tangan. Sama persis seperti kebiasaan di Indonesia, dimana makan bisa menggunakan tangan. Menariknya, dari kebiasaan makan berbagai bangsa tersebut, paling tidak bisa kita temukan satu benang merah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut, berfungsi sebagai norma-norma sosial yang mengatur bangsa tersebut. Sebab, sewaktu orang makan, adakalanya berlangsung interaksi sosial antara mereka. Dan interaksi itu penuh keakraban, walaupun juga penuh formalitas. Adapun, sewaktu orang makan, ada kalanya mereka menjadi 'jaim'. Mereka ingin terlihat sopan dihadapan lawan bicaranya. Setiap bangsa punya definisi sendiri mengenai apa itu sopan dan tidak, tapi ada standar yang harus diikuti.
Adapun terkadang, saya heran. Perkembangan dunia maya ini benar-benar sangat pesat. Dan munculah model interaksi sosial baru. Ada fenomena 'social networking', dan tentu saja, yang lebih klasik adalah 'mailing list'. Hal demikian adalah sangat baik, sebab banyak hal yang bisa diselesaikan dengan model interaksi sosial seperti demikian. Namun, sama seperti interaksi sosial konvensional, mulai muncul beberapa tipe perversi yang mengganggu. Salah satunya adalah 'flaming', atau menyebarkan pesan kebencian di milis atau social net. Walaupun tidak terlibat, namun terjebak ke dalam 'flaming' adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan tidak nyaman. Menyaksikan pihak yang satu memaki yang lain, juga sebaliknya, dalam jaringan maya, sama tidak enaknya dengan menyaksikan hal yang sama di dunia nyata. Istilahnya, dunia nyata sendiri sudah penuh masalah, seperti perang, kelaparan, penyakit, krisis ekonomi, ataupun bencana alam. Mengapa juga menambah permasalahan di dunia maya, dengan menyebarkan kebencian? Seharusnya, dunia maya digunakan untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang ada di dunia nyata.
Adapun definisi  Netiquette adalah , 'a portmanteau of "network etiquette", is a set of social conventions that facilitate interaction over networks, ranging from Usenet and mailing lists to blogs and forums'. Demikian menurut mbah wikipedia. Adapun jika ingin lebih lengkap, masukkan saja entri 'IETF RFC 1855' pada google. Disitu ada panduan netiquette. Ada baiknya, setiap peserta dalam interaksi tersebut memperhatikan netiquette.
 Memang, setiap organisasi memiliki penafsiran sendiri terhadap apa itu netiquette. Namun paling tidak, interaksi sosial dalam dunia maya seharusnya diarahkan pada solusi, dan masih mempertimbangkan sopan santun. Sebagai orang Asia, dimana sopan santun dan tata krama adalah bagian dari kultur kita, hal tersebut harus dipegang erat. Sebab kultur ramah tamah tersebut, sebenarnya adalah jati diri kita. Dan jati diri kita harus dipertahankan.
 
  Today, there have been 2 visitors (40 hits) on this page!
 
 
=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=

The Google search result about me is shown

here