The Bioinformatics materials and goodies
  Jurus Alternatif Popularisasi Sains: Lobi dan Diplomasi
 
Kamis, 20 Desember, 2007 oleh Arli Aditya Parikesit

 Popularisasi sains sudah bergerak ke arah jalan buntu. Profesi ilmuwan bukanlah profesi yang disukai publik karena berbagai faktor. Depdiknas sudah berusaha keras untuk mempopularkan sains dengan mengadakan olimpiade sains. Namun, menurut hemat kami, sains tidak dapat dipopularkan hanya dengan mengadakan olimpiade an sich. Diperlukan kiat-kiat baru yang menyegarkan untuk mempopularkan sains. Kiat-kiat baru ini memerlukan paradigma ‘out of the box’, yang berarti bahwa kreativitas untuk mengapresiasi pihak yang berbeda tradisi keilmuwan dengan kita adalah suatu keniscayaan.

Perjuangan Popularisasi Sains Bersama Kolega

Pada akhir November, setelah Idul Fitri tahun ini, seorang kolega dari departemen Filsafat FIB UI menghubungi saya. Ternyata rekan saya ini ingin membuka forum diskusi mengenai pemikirannya Richard Dawkins. Saya sanggupi, sebab dia memerlukan saya untuk memverifikasikan pemikiran filosofisnya dengan fakta sains secara empiris. Alhasil diskusi dimulai. Saya awalnya berpikir, apakah hanya saya saja yang memiliki latar belakang sains-tek di ruangan itu. Namun, ternyata tidak demikian. Baru diskusi berjalan 5 menit, datanglah seorang dokter pakar antropologi fisik. Jadilah kami berdua, menjadi ‘minoritas’ yang berlatar belakang sains-tek, di lautan para filosof. Diskusinya berjalan cukup kondusif. Kami mendiskusikan Teori Evolusi Darwin, Genetika Mendel, Atheisme Dawkins, dan bioterorisme. Alhasil, diskusi kami tutup saat saya dan kolega memberikan kata akhir mengenai biodiversitas dan imajinasi. Event yang sangat menarik, karena saya bisa mendapatkan audiens untuk mempopulerkan pandangan saintifik saya. Satu hal yang sangat saya appreciate, adalah antusiasme kolega filusuf yang sudi mendengarkan pemikiranku. Tentu saja saya juga mengapresiasi mereka, dengan mendengarkan dan mengkomentari spekulasi canggih mereka mengenai filsafat. Saya bisa mengikuti pemikiran mereka karena memang saya senang baca buku filsafat. Saya sudah akrab dengan pemikiran Plato dan Bertrand Russel dari sejak SMA. Itu cerita happy-nya, namun kisah ‘seru’ upaya popularisasi sains-tek akan segera saya jabarkan dibawah.

Kira-kira dua bulan sebelum diskusi di FIB-UI, kolega dari UIN Syarif Hidayatullah menghubungi saya. Dia bilang bahwa akan diadakan musyawarah para ulama di Cibubur dalam waktu dekat. Begitu saya tanya apa yang bisa saya bantu, dia bilang supaya saya mempersiapkan artikel mengenai tenaga nuklir dan mendiskusikannya di forum ulama, terkait dengan PLTN Muria. Saya jawab dengan halus, bahwa itu bukan bidang saya, karena spesialisasi saya adalah bioteknologi kedokteran. Namun dia bersikeras meminta saya mempersiapkan artikel tersebut, karena mereka tidak memiliki pakar yang kompeten. Pada hari H, artikel saya dibagi keseluruh delegasi ulama. Namun, akhirnya saya justru diminta supaya tidak bicara diforum, karena delegasi ulama dari Jepara datang dengan emosi. Mereka merasa selama ini aspirasinya tidak didengarkan oleh pimpinan mereka dan pemerintah. Saya meminta kepada panitia supaya bisa bertemu dengan mereka. Namun panitia menolak, karena situasinya dianggap kurang kondusif. Akhirnya mereka berhasil saya bujuk supaya diizinkan bertemu dengan delegasi dari Jepara. Alhasil, saya berhasil bertemu dengan mereka. Disitu kami berdebat dengan cukup sengit. Nada suara mereka tinggi, saya juga ikutan tinggi. Di pertemuan itu saya memaparkan pandangan saya yang pro pembangunan PLTN. Namun mereka justru meminta, kalo mau membangun PLTN, ya bangun di Jakarta saja, sebab Jepara tidak memiliki urgensi untuk itu. Lalu saya berikan contoh lain, dimana Iran dan Pakistan menjadi negara yang disegani karena memiliki teknologi nuklir. Setelah saya angkat kasus Pakistan dan Iran, mereka mulai melunak. Mereka setuju bangun PLTN, asal jangan di Jepara. Setelah berdebat dan berdiskusi sekitar sejam, akhirnya saya meninggalkan forum karena ada keperluan mendadak. Akhirnya beberapa hari kemudian, teman saya memberi tahu, bahwa pertemuan berakhir tanpa adanya kesepakatan. Nuansa politisnya terlalu tinggi, sehingga kesepakatan adalah tidak mungkin. Begitulah pengalaman saya mempopularkan sains-tek dengan ulama. Bisa memasukkan 50% pemikiran kita saja di forum yang ‘bersuhu tinggi’ seperti itu saja sudah sangat bagus.

Saya sendiri sudah dari sejak awal berkeyakinan, bahwa sains-tek harus diperkenalkan pada semua spektrum masyarakat. Saya sudah sangat sering berdiskusi dengan rekan-rekan saya yang aktivis sosial-budaya dan Gender bahwa sains-tek itu sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa. Berdiskusi selama berjam-jam dengan mereka adalah hal yang biasa. Rekan-rekan saya sangat kritis dengan saintis, karena menurut mereka saintis sudah gagal untuk memahami pemikiran para aktivis. Saya selalu meyakinkan mereka, bahwa tidak semua saintis seperti itu. Selalu ada saintis yang terbuka dan bisa memahami mereka juga. Saya berharap, jika suatu saat rekan-rekan aktivis itu menjadi pemegang kebijakan publik, agenda sains-tek juga ikut mereka perjuangkan. Demikian juga, saya pun akan mendukung agenda mereka. Dalam kehidupan sosial ini sah-sah saja melakukan diplomasi model ini. Sewaktu saya mengunjungi komunitas pemulung di Pondok Labu bersama rekan-rekan aktivis beberapa minggu yang lalu, tanpa sengaja saya melihat bahwa pemimpin komunitas pemulung itu punya monyet. Akhirnya saya menyeletuk di forum itu, bahwa mari kita memulai pelajaran biologi kita. Semua orang tertawa mendengar celetukan saya. Dari situ saya memulai diskusi membahas berbagai hal. Ternyata anaknya pemimpin pemulung itu sedang sekolah kebidanan, jadinya diskusi bisa dibelokkan ke arah kedokteran. Rekan-rekan aktivis mengikuti diskusi kami dengan antusias. Satu agenda bisa saya perjuangkan di forum pemulung Pondok Labu, karena kedokteran adalah sains.

Popularisasi Sains di Luar Negeri

Saya yakin pembaca sudah mengenal Linus Pauling dan Albert Einstein. Mereka berdua adalah ilmuwan profesional, yang telah mendapatkan nobel di bidang sains. Pauling mendapatkan nobel kimia untuk penelitiannya mengenai ikatan kimia. Sementara Einstein medapatkan nobel fisika untuk penelitiannya mengenai efek fotolistrik. Namun, mereka tidak hanya berhenti melakukan aktivitas di laboratorium saja. Albert Einstein dikenal sebagai ilmuwan yang sangat anti penggunaan senjata nuklir. Einstein pernah menandatangani suatu petisi anti senjata nuklir untuk perdamaian dunia, bersama filosof Inggris Bertrand Russel. Demikian juga dengan Linus Pauling. Sebagai seorang chemist, dia sangat konsisten menentang penggunaan senjata nuklir. Karena sikap ‘mbalelo’nya, pemerintah Amerika Serikat membekukan paspor dia, dan menuduh dia sebagai ‘komunis’ yang bekerja sama dengan Uni Soviet. Suatu fitnah yang sangat kejam, karena dia tidak pernah mengusung ideologi komunis sama sekali, apalagi bekerja sama dengan Soviet. Sewaktu panitia nobel mengumumkan, bahwa Linus Pauling berhak menerima nobel perdamaian, dia tidak bisa datang ke Eropa karena paspornya ditahan. Saya adalah pengikut Einstein dan Pauling. Mereka mengajarkan saya, bahwa seorang peneliti harus bisa terlibat dalam upaya menjaga perdamaian dunia.

Strategi Popularisasi Sains

Menaggapai artikel Merry, saya mewakili para ilmuwan memang harus dengan jujur mengakui, bahwa kasus ‘menara gading’ itu memang ada. Kasus ‘tidak menginjak bumi’ itupun juga ada. Namun kita harus mengakui juga dengan jujur, bahwa ada ilmuwan yang bekerja keras pontang-panting berusaha mempopulerkan sains-tek ke semua kalangan, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun. Mereka tidak ingin dikenal dan tidak ingin juga menjadi selebrity. Mereka hanya menginginkan supaya Indonesia bisa memiliki kemajuan Sains-Tek seperti negara-negara maju. Jika suatu saat Indonesia menjadi negara kuat dan maju karena sains-teknya, itu adalah kebanggaan bagi mereka, walaupun mereka tetap tak dikenal. Kolega saya yang dokter antrop fisik itu adalah ilmuwan model itu. Dia sudah sangat sering meneliti dan hidup bersama masyarakat terasing, seperti suku Dayak di Kalimantan, namun masih tetap up to date dengan perkembangan sains-tek terbaru. Sewaktu diskusi di FIB-UI itu, dia justru bicara juga tentang teori biologi molekuler mutakhir seperti DNA polymorphism. Kolega saya menolak untuk menjadi selebrity atau tampil dipublik, dan lebih suka bekerja dibelakang layar. Kedepannya diperlukan suatu strategi komprehensif untuk popularisasi sains. Satu hal yang seharusnya diperhatikan, bahwa menghargai pihak yang berbeda tradisi keilmuan dengan kita adalah suatu keniscayaan. Di Amerika Serikat, kurikulum Universitas terkemuka seperti Harvard dan Yale sudah berbasis liberal arts yang mengakomodasi kajian multi disipliner. Selengkapnya mengenai liberal arts akan saya tulis di lain kesempatan. Jika premis penghargaan itu kita pegang, maka popularisasi sains bisa berjalan. Selanjutnya, diperlukan pembentukan suatu komunitas yang bergerak secara multi-disipliner untuk popularisasi tersebut. Embrionya sudah ada di Netsains ini. Demikian artikel saya. Semoga mencerahkan.

Referensi:

  • Adian, Donny Gahrial. 2007. Liberal Arts (Naskah Akademik). Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Depok.
  • Gribbin, John. 2001. Science: A History. The Penguin Press. London.
  • Rusliwa Sumantri, Gumilar. Enterprising University: UI Towards The Trodden Path. Makalah Seleksi Rektor UI periode 2007-2012. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Depok
  • Pope, Geoffrey. 1984. Antropologi Biologi. Rajawali Press. Jakarta.
Telah dimuat di http://netsains.com/2007/12/jurus-alternatif-popularisasi-sains-lobi-dan-diplomasi/
 
  Today, there have been 12 visitors (64 hits) on this page!
 
 
=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=

The Google search result about me is shown

here